Langsung ke konten utama

Izin yang tertunda

Ahad ini aku memulai cerita di Bogor, ya tepat di rumah orang tua ku yang tidak terlalu luas tidak megah tapi sangat nyaman untuk tinggal disini bersama adikku. Ohiya tepatnya hari ini ahad ada sedikit momen mengenai rencana akad nikahku. Alhamdulillah siang tadi keluarga dari calon istriku berkunjung ke rumah orang tua ku disini tujuanya untuk lebih mengenal keluargaku seperti biasa setiap aku bertemu keluarga mereka jarak pandangan harus selalu dijaga agar membuat aku semakin penasaran dengan calon istriku, wah sudahlah tapi dalam kesempatan ini aku tidak akan menceritakan kejadian siang tadi tapi lebih mengenai perjuangan aku dalam menggapai restu sang ibu karena yang aku rasakan memang momen itu sangat berharga sehingga aku bisa melangkah ke jenjang yang lebih serius ini. Memang cerita kemarin sempat menggantung bahkan akupun merasa ceritanya sedikit berantakan tak jelas arahnya, ya semoga teman-teman bisa memakluminya dan bisa mengambil manfaat dari kisahku kemarin. Setelah beberapa kali aku mencoba meminta izin untuk menikah di usia dua puluh dua ini sesekali aku menemui jalan buntu, buntunya itu karena nihilnya dukungan dari orang tua ku terlebih ibu, tapi aku selalu terus meyakinkan sang ibu agar bersedia mengizinkan aku untuk hal tersebut. Sesekali aku selalu mencari referensi bagaimana cara mengajak dialog yang enak dengan orang tua. Sempat berfikir gagasanku dulu membandingkan dunia pacaran dan nikah muda kurang lebih seperti ini " bu kalau ibu liat anaknya ibadah seneng gak? Pasi jawaban ibu seneng banget, nah kalau liat anaknya maksiat seneng ga? Ya mana ada orang tua yang mau anaknya maksiat bahkan kalau niat aja jangan sampai, nah bu kan ibu tau nih nikah itu ibadah bahkan pahalanya buanyak banget kalau aku nikah nanti ibu ridho pahala juga pasti dapet padahal cuman kasih ridho doang, beda dengan pacaran kalau ibu ga ngizinin aku nikah takutnya aku pacaran dan nanti ibu juga kena dosanya" nah jika dikasih pilihan sepeti itupun pasti sang ibu berfikir "ohiya yak anak ku sudah dewasa mungkin udah saatnya" asal dengan keseriusan yang kuat pasti banyak jalan menuju roma ibarat peribahasa seperti itu. Mungkin teman-temanpun bisa melaukan cara yang di atas ataupun semisalnya memang ketika orang tua sedikit susah ketika diajak serius maka kita harus coba dengan cara dialog santai sebisa mungkin jangan seperti menggurui tapi ajak dialog.
Sedikit tips dari aku hal yang pertama adalah harus sedini mungkin mengajukan izin pernikahan seperti kemarin aku jelaskan setaun idealnya misal taun depan mau nikah dan sudah mempersiapkan mulai tahun ini baik izin, ilmu financial dls. Siapkan mental baja tulang besi supaya jika kalian mendapatkan penolakan yang keras di awal dari keluarga tidak gampang patah arang, ingat calon mertua itu bisa lebih mematahkan semangat. Selanjutnya buktikan dengan sungguh-sungguh bahwa kita sudah siap dengan pilihan kita menikah. Jika memang dirasa cukup persiapanya maka melangkah siapkan mental yang kuat karena tantangan bisa terjadi kapan dan dimanapun tanpa meminta kita siap atau belum. Jika memang adakalnya semangat menurun ingat yang berjuang bukan hanya diri kita saja yang di uji bukan hanya diri kita saja dan ujianyapun belum tentu kita seberat yang lain.
Yakinlah proses ini nanti akan menjadi catatan tersendiri dalm hidup kita akan menjadi hal yang indah ketika kita mengulang kembali kisah dalam fase ini. Hampir lupa dalam perjalanan ku di fase ini ada sosok bibi langsung dari ibuku yang menbantu dalam meyakinkan sang ibu agar aku bisa menikah. Jadi ketika aku kurang mendaptkan dukungan dari ibuku , aku harus mencari dukungan dari yang lain dan itu dampaknya sangat berpengaruh, masih teringat kata bibiku itu '"hayu a mau nikah mah di dukung" simple tapi memberikan semangat yang amat kuat dalam diri kita, dan pada akhirnya andil bibiku itupun sangat membantu dalam meyakinkan ibuku. Dan pada saat fase ini aku belum sempat memikirkan siapa calonya karena cerita dalam fase ini masih sangat panjang jadi tunggu cerita selanjutnya semoga Allaah memberi saya kesempatan untuk terus berbagi....
Semoga bermanfaat
Barakallah fikum

Komentar

Postingan populer dari blog ini

menghitung hari menuju dzulqa'adah

Pagi ini di At-taawun sudah sangat familiar mesjid yang menjadi icon di puncak bogor ini. Masih dalam penantian dan pemantasan diri untuk menjadi seorang suami yang sangat dipertanyakan pertanggung jawabanya di akhirat kelak. Semakin mendekati semakin deg-degan rasanya usia hari ini baru terkesan 22 tahun 5 bulan 8 hari ini sudah mengemban amanah yang sangat berat, di saat seusiaku belum terlalu banyak yang melangkah ke arah serius dalam mengemban amanah ini. Tapi sama sekali tidak ada keterpaksaan dalam melangkah ke arah ini sama sekali tidak, justru hidup ini jika ingin serius harus mengemban amanah yang lebih lampaui kapasitas diri kita maka dengan semua itu kita akan tau kapabilitas diri kita. Tapi ingat haruslah semua itu dengan ilmu, banyak orang yang kelihatanya sudah ingin masuk ke ranah pernikahan akan tetapi hanya sebatas ingin bahkan belum bisa mempelajari bekal untuk kedepanya, ini ibadah terlama akhi. Jikalah shalat saja yang ibadah paling lama sekitar lima m...