bismillah, baru bisa nulis di blog lagi ni berhubung baru nemu laptop buat dipeinjem ngetik lagi, maklum mahasiswa tingkat bawah yang merangkak jadi suami jadi mau beli laptop uangnya dialihin dulu buat nikahan dia, eaaa.
pada tulisan kemarin masih membahas terkait birokrasi kepada sang ibunda baiklah aku akan flashback sedikit kebelakang mengenai perjalananku ini.mulai dari mana yak? dari awal banget hijrah atau awal banget proses pernikahan? okelah awal proses menuju pernikahan aja kalau awal hirah kayanya kepanjangan bisa jadi kitab berjilid-jilid. Awalnya aku menapakai jejak ini adanya rasa ketakutan akan keimananku , karena tema-teman dalam komuintas dakwahku yang dekat hampir semuanya sudah menikah, ketika itu keimananku sedang turun-turunya dan posisinya agak jauh dari teman-teman shalihku. Memang faktor teman itu sangat penting bagiku dalam mengcharge keimananku dikala futur,aku takut ketika futur imanku merosot semakin jauh karena bagaimanapun teman yang sudah menikah tidak akan selenggang waktunya sebagaimana teman yang masih menjomblo.Perlu dicatat bukan karena aku terus dikompori terus aku terhasud untuk menikah , bukan seperti itu karena cerita selanjutnya akan ada dua opsi dalam menentukan arah hidupku, dan aku tidak terhasud sebegitu kuat oleh mereka akan tetapi aku takut tidak bisa menahan kencangya arus fitnah yang akan menimpa diriku dihari kedepan. Dan ketahuilah fitnah itu semakin mendekati akhir zaman semakin kencang, dan dari ketakutan diriku yang takut terperosok kedalam lembah fitnah ini, aku mulai berfikir merencanakan hidup untuk kedepanya lalu munculah dua pilihan dalam hidupku kalau tidak masuk pondok tahfidz maka aka harus nikah agar lebih terjaga. dalam keadaanku sebelumnya aku sempat masuk dauroh quran sekitar enam bulan tidak beres sih sampai tiga puluh juz tapi itu menjadi modal pengalamanku untuk lebih ekstra mencitai al-quran dan mengejar cita-cita membereskan hafalan al-quranku. sebelumnya aku setelah beres dauroh quran itu, aku mengadu nasibku kedaerah cisarua bogor yah disana ada pembukaan beasiswa Strata satu mungkin sebagian teman-teman tau pondok tahfidz itu disanalah banyak lahir para penghafal quran yang sangat kuat hafalanya dari situ aku berkeinginan kuat agar bisa menjadi keluarga besar pondok tahfidz itu. Maka setelah dibukanya pendaftaran beasiswa itu akupun mendaftar sekitar pertengahan maret dan tesnya itupun sekitar tiga hari materinya menghafal empat halaman al-quran yang sebelumnya belum sama sekali aku hafal dan uniknya setiap halaman suratnya berbeda-beda, halaman pertama surat yusuf, halaman kedua surat as-shafat , ketiga maryam dan keempat an-nur kira-kira seperti itu dapat dibayangkan oleh teman-teman? mulai menghafal sekitar jam lima sore dan disetorkan dihari berikutnya ba'da ashar, dan hasilnya pada hari pertama aku tidak bisa lancar mensetorkan hafalanku ini failed lah, pesimis aku hari pertama, menciba hari kedua alhamdulillah hafalaku bisa dikatakan lancar ada setitik harapan dan hari ketiganya zonk nilai hafalanku merosot. Ada yang unik salah satu peserta dari subang ketika hari ketiga dia sudah pasrah dan pada setoran hafalan malah dia ngobrol kira-kira begini "tadz ana lagi futur ga bisa menghafal ana minta motivasi" kurang lebih seperti itu, aku mengira dia lancar karena keluar dari tempat tes sangat cepat. Biasanya yang keluar test cepat kan hafalanya fasih tapi jauh dari harapan hasilnya. Setelah beres pulang dari karantina selama tiga hari tinggalah menunggu hasil sekitar selama sebulan. Pada akhirnya aku pasrahkan semua hasilnya pada Allaah karena ikhtiar sudahku lakukan dan berdoapun sudah kulantunkan, tinggalah aku pasrakan hasilnya bagaiamanpun hasilnya yakin pasti sangat terbaik. jika jadi nanti hasilnya tidak lolos bisa jadi itu yang terbaik dan bisa jadi juga hasilnya lolos itu hasil yang terbaik, loh?. Banyak pelajaran yang aku dapatkan ketika saat dikarantina itu.
pertama, aku semakin semangat dan cinta kepada Al-quran waktu shalatku sangatlah teratur , bagaimana tidak teratur suasana pondok yang sangat aku inginkan ada semuanya dipondok itu memang suasana atau lingkungan itu faktornya sangat mendukung untuk menunjang keberhasilan kita dalam berproses menghafala al-quran, suasna yang sejuk asri dan dekat dengan ketaatan. Suasana dekat dengan sungai makin khusyu menghafal al-quran.
Kedua , imam yang fasih tajwidnya , meskipun terkadang ayat yang dibacakan mereka belum aku hafal tapi sangat menamabah khusyu shalat tak terasa berat jika ayatnya sangat panjang.
ketiga, ustadz yang sangat tawadhu perhatian da sangat nyaman untuk diajak interaksi, meskipun mereka sangat tinggi ilmunya dan hafalanya sangat kuat tapi mereka sangat menyanyangi kepada para peserta test disaat itu.
keempat, malu pada mereka yang tekad dan semangatnya sangat kuat dalam menghafal al-quran, aku melihat mereka seakan-akan dunia perhiasan uang dan apapaun yang aku inginkan ketika berada dilingkungan luar nilai dunia itu sangat kecil. Al-quran itu seakan-akan sudah memalingkan mereka dari dunia, anak-anak kecil sangatlah bersemangat meskipun setoranya kadang aku perhatikan terus diulang-ulang agar lancar, dan para asatidznyapun sama meskipun mereka sudah beres hafalan dan tinggi keilmuanya mereka tidak mau kalah dalam hal memurajaah hafalanya.
mungkin malam ini sampai titik ini aku menulis in syaa Allaah akan dilanjut mengenai hasil testku dan bagaimana bisa sampai titik menikah ini,
hai calon istriku besok aku kirimkan surat numpang nikahnya jadi yang sabar ya
semoga aku bisa membagi kisah-kisah yang baik dan teman-teman bisa mengambil kebaiakan dari kisah ini, yang baik datang dari Allaah yang tidak baik datang dari aku sendiri
barakallah fikum....
Pagi ini di At-taawun sudah sangat familiar mesjid yang menjadi icon di puncak bogor ini. Masih dalam penantian dan pemantasan diri untuk menjadi seorang suami yang sangat dipertanyakan pertanggung jawabanya di akhirat kelak. Semakin mendekati semakin deg-degan rasanya usia hari ini baru terkesan 22 tahun 5 bulan 8 hari ini sudah mengemban amanah yang sangat berat, di saat seusiaku belum terlalu banyak yang melangkah ke arah serius dalam mengemban amanah ini. Tapi sama sekali tidak ada keterpaksaan dalam melangkah ke arah ini sama sekali tidak, justru hidup ini jika ingin serius harus mengemban amanah yang lebih lampaui kapasitas diri kita maka dengan semua itu kita akan tau kapabilitas diri kita. Tapi ingat haruslah semua itu dengan ilmu, banyak orang yang kelihatanya sudah ingin masuk ke ranah pernikahan akan tetapi hanya sebatas ingin bahkan belum bisa mempelajari bekal untuk kedepanya, ini ibadah terlama akhi. Jikalah shalat saja yang ibadah paling lama sekitar lima m...
Komentar
Posting Komentar