Langsung ke konten utama

Minta Izin kepada ibunda tercinta..

Bismillah, jumat ini alhamdulillah aku sudah sampai istiqlal dan dengan ini untuk kedua kalinya shalat jumat di istiqlal. Mesjid yang sempat menjadi mesjid terbesar di Asia Tenggara beberapa tahun ini memang masih banyak menyimpan keindahan dari segi arsitekturnya dan orang-orang dari luar jakarta pun masih merasakan penasara jika berkunjung ke jakarta rasanya kurang afdhal kalau tidak shalat di mesjid ini. Oh iya sempat kemarin aku menyinggung bagaimana cara mendapatkan izin menikah dari orang tua terlebih orang tua kita sendiri, memang sebelum kita menjajaki pernikahan pengalaman pribadiku yang paling awal dipersapkan adalah kesiapan dari keluarga sendiri. Singkat cerita aku mengajukan permohonan kepada ibunda sekitar kurang lebih setahun untuk menikah, dan memang harusnya seperti itu supaya adanya kelonggaran dan persiapan dari diri kita. Pada awalnya akupun sama seperti teman-teman yang mungkin mengalami fase ini, fase  dimana cuman ngomong "bu aku mau nikah" kata yang sangat mudah di ucapkan akan tetapi pada praktiknya kata itu menjadi sangat berat diujung lidah, kelu rasanya. Bagaimana tidak jika usiaku ini yang banyak dari kalangan seusia ku masih sangat senangnya pacaran kebanyakan, masih sangat senang petangtang-petengteng tapi aku sudah memberanikan untuk mempersunting anak gadis orang, meskipun ketika aku meminta izin kepada ibunda calonpun belum ada, tapi memang harus seperti ini adanya. Mungkin jika usia yang sudah menginjak duapuluh lima yang secara psikologis memang pas dan ideal untuk menikah tidak akan mengalami guncangan sehebat ini ketika meminta izin menikah terlebih sudah mendapatkan kecukupan dari segi financial. Kemudian setelah beberapa kali mencoba mengajukan izin nikah ini kepada sang ibu akhirnya aku memberanikan diri dan ternyata pada awal jauh dari ekspektasi respon sang ibunda, semacam tidak percaya atau dia menganggap aku ini hanya bercanda, entahlah. Setelah itu aku terus berulang kali mengajukan tawaran pernikahan ini mungkin karena tekad dan keseriusan yang kuat singkat cerita ibuku pun mulai merespon, masih ingat dan terngiang ibu ku berbicara "memang ada calonya?", dari situ aku serasa mendapati angin segar, mungkin ini jadi respon yang baik. Dari pengalaman ini aku mengambil banyak pelajaran yaitu , jika memang dirasa kebaikan maka segerakan dan kuatkan tekad berdo'a pasti akan Allaah bantu memang perasaan berat takut dan was-was itu akan selalu ada , dan rasa takut was-was itu bukan untuk dihindari akan tetapi dihadapi. Kemudian langkah selanjutnya setelah mendapatkan izin dari sang ibu pastilah ada beberapa syarat yang harus kita penuhi meskipun ibunda ku tidak mensyaratkan yang berat-berat., yang aku rasakan pada saat itu dan sampai saat ini mungkin ibu ku terkendala financial aku yang belum mendapatkan penghasilan tetap tidak seperti anak-anak seusia ku yang sudah mendapat pekerjaan tetap yang gajinya sudah beberapa juta, mungkin disitu ketika ibundaku berat mengizinkan aku untuk menikah karena tugas sang suami nanti pasti mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istrinya, singkat cerita kegiatanku masih kuliah dan mejadi guru ngaji di TPQ yang baru setaun lebih beroprasi dan kadang berjualan sepatu dan baju olahrga, meskipun tidak seberapa tapi cukup membantuku menahan meminta dari orang tua. Akupun dapat menyimpulkan memang ketika meminta izin pernikahan dari orang tua kita, mereka itu bukan tidak mengizinkan akan tetapi takut kita belum bisa mengemban amanah itu, lantas jika memang sudah dapat izin dari orang tua kita itu, maka kita buktikan kesungguhan kita bahwa niat kita tidak main-main jika niat dan kesungguhan kita sudah menjadi serius di mata orang tua kita pasti dan sangat pasti jalan itu akan terbuka lebar. Dan jalan aku dan teman-teman yang menikah muda pun sama pasti hambatan itu ada dan semua itu butuh proses untuk sampai ke titik ini akupun belum merasakan penuhnya jenjang pernikahan tapi aku sudah sangat sering selalu menggali informasi yang sudah mendahului jenjang pernikahan muda ini. Dan sungguh sangat banyak kisah menakjubkan dari mereka pada saat awal kisah meminta izin dan mungkin juga menjadi pengalaman pribadi dari setiap teman-temanku, dan aku sangat berterima kasih kepada teman-temanku karena wasilah mereka akupun bisa mengikuti jejak-jejak ibadah yang paling lama dalam agama islam ini terlebih di usia dua pulujh dua tahun ini. Jika kita belum bisa menghadapi hambatan dari keluarga kita jangan harap kita bisa menghadapi hambatan dari keluarga calon istri kita tentunya terkadang hambatan dari luar juga akan terasa berat.
Kemudian aku mengingatkan sebelum menjajaki langkah pernikahan ini sebisa mungkin harus sudah mempelajari sedikit tentang pernikahan karena fikihnya sangat luas, pernah mendapatkan info dari salah satu teman ada salah satu yang sekarang jadi ustadz asal jogja yang nikahnya di usia delapan belas tahun akan tetapi belajar tentang pernikahanya dari usia dua belas tahun, jika kita ingat usia kita saat itu sedang apa? akupun merasa sangat terlambat dengan mempelajari fikih pernikahan ketika saat mendekati pernikahanku tentunya kenapa tidak beberapa tahun yang lalu, tapi tidak ada kata terlambat mari terus belajar dan selalu menggali wawasan. Bagaiman menjadikan keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah atau orang sering menyingkat "samawa" tetapi kita masih malas mencari ilmu tentang pernikahan?
semoga bermanfaat
sampai jumpa di sesi berikutnya...
teruntuk kamu calon istriku itu sedikit cerita aku dalam merajut langkah agar dapat mendapatkan izin dari sang ibunda tercinta....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

menghitung hari menuju dzulqa'adah

Pagi ini di At-taawun sudah sangat familiar mesjid yang menjadi icon di puncak bogor ini. Masih dalam penantian dan pemantasan diri untuk menjadi seorang suami yang sangat dipertanyakan pertanggung jawabanya di akhirat kelak. Semakin mendekati semakin deg-degan rasanya usia hari ini baru terkesan 22 tahun 5 bulan 8 hari ini sudah mengemban amanah yang sangat berat, di saat seusiaku belum terlalu banyak yang melangkah ke arah serius dalam mengemban amanah ini. Tapi sama sekali tidak ada keterpaksaan dalam melangkah ke arah ini sama sekali tidak, justru hidup ini jika ingin serius harus mengemban amanah yang lebih lampaui kapasitas diri kita maka dengan semua itu kita akan tau kapabilitas diri kita. Tapi ingat haruslah semua itu dengan ilmu, banyak orang yang kelihatanya sudah ingin masuk ke ranah pernikahan akan tetapi hanya sebatas ingin bahkan belum bisa mempelajari bekal untuk kedepanya, ini ibadah terlama akhi. Jikalah shalat saja yang ibadah paling lama sekitar lima m...